HPku sayang HPku malang
November 14, 2008
Masih ingat blog saya tentang legenda HP saya? HP yang saya bangga-banggain tuuuuh.. si Kozi en si P800….
Si Kozi, yang 2 ON itu, ketika saya mencoba menghapus sms-sms ga penting yang ga perlu saya simpan… tiba-tiba hengki-pengki. Meraung-raunglah saya.. secara udah banyak banget kontek, eh contact orang-orang disitu termasuk nomornya si Kutu (yang aniwei, saya ga mau hubungi dia duluan -sudah menghilang dibawa puting beliung itu-). Sebenarnya bukan nomor dia yang penting (karna itu personal), yang penting itu contact untuk pekerjaan saya…. AAARGH!!!
Beralihlah saya memakaikan Sim GSM saya ke P800… eeeeeeh… minta di matiin mulu tu HP-nya… mana pencetannya sekarang udah dol.
Tadi malam saya memutuskan untuk mencari pengganti mereka… tapi belum dapat. Dengan pasang muka memelas dan bisa babibu kalau dihubungi ga jelas… dipinjamkanlah sementara HP-HP oleh teman saya… pinjem yach.. sampai saya menemukan tambatan hati yang baru…
Ternyata memang saya harus membeli HP baru.. dan itu termasuk GSM dan CDMA. Somehow, itu adalah salah satu kaul saya bila saya mempunyai hidup baru… dan kemarin asik-asik saja mengingkarinya. Maaf ya Kaul….
*eh.. eh.. siapa tahu bila ganti HP baru, dapat juga yang “Baru” yach…? NGAREP*
The legend of my HP
October 14, 2008
Tululut… tululut…
Nada panggil di HP saya berbunyi. HP GSM & CDMA yang dipadu menjadi satu (bukan Samsung loh..). Ini merk-nya Kozi, made in China, dengan model pas-pas-an, berwarna hitam, berukuran ruas genggaman tangan. Dan yang paling saya suka bunyi tuts nomornya mengeluarkan nada do-re-mi yang terkadang bila saya sedang mati gaya, saya sukan memainkan musik. Yang paling sering sih lagu “Ibu Kita Kartini“. Yaaaah, untung saja saya bukan tipe perempuan yang mementingkan penampilan dari HP, jadi saya biasa saja, ga malu, yang penting praktis, TWO ON! ga repot bawa 2 biji HP kemana-mana.
Sebelumnya, saya memakai 2 HP. GSM saya, Sony Ericsson P800 yang berwarna biru pucat dan gedenya segepok, mana berat (lumayan bisa buat nyambit anak anjing – ih, gw tega banged yak?-). Whaaaat??? Masih ada??? Oh, pasti! Tentu!!! Ini HP sudah saya pakai dari 5 tahun yang lalu. Dulu, 5 tahun yll, saya pertegas lagi, trendy sekali… hi tech deh pokoknya. Hmmm.. sebenarnya ga bangga-bangga amat, lagi-lagi saya katakan disini bahwa saya ga pernah bangga apabila penampilan ditunjang dari HP – Percuma punya HP keren, muka kere -
Sangat-sangat merepotkan! Sudah pastilah saya ga memakaikan kondom (dompet) yang bisa memuat 2 HP sekaligus, yang biasa dijual di ITC atau melawai, yang bisa kita dapatkan seharga 35 ribu itu. Secara…. P800 saya itu guede tenan, udah 5 tahun gitu loh.. udah bisa lari-lari.. ditambah (sebelum si Kozi) si Nokia (lupa serinya, yang CDMA sejuta umat itu deh) ga bakal muat. Actually, P800-nya yang kebangetan. Ya.. ya.. ya.. saya akui tuh HP mustinya saya Lembiru. I know. Peace…. *sambil mengangkat tangan dan mengacungkan dua jari*
Tahun lalu di 2007, saya pernah datang di acara buka puasa yang diadakan oleh kantor lama saya, Kanzen. Saya bekerja disana sekitar tahun 2004 dan saat itu saya memakai P800 kesayangankuh (pake ‘h’ saking sayangnya). Secara alumni, mereka mengundang saya untuk temu kangen (halah.. bahasa gw.. temu kangen… ga ada kata lain ya Jo?).
Tiba-tiba P800 saya berbunyi dan saya langsung menerima telepon. Ketika saya sadari, mereka ternganga, takjub dan memasang muka terheran-heran. He? Ade ape?? Ada yang salah dengan muka saya??? Buru-buru saya matikan telepon karna pemandangan di depan saya cukup menggangu. “Eh, ada apaan sih? kok mukanya masa gitu??” tanya saya dengan muka kebingungan. “Boooooo….. lo masih pake tu HP??? Ah, gila lo ya???” seru salah satu teman saya dengan nada tinggi dan mencibir (aaargh, sungguh terhina-dina gw). “Emang kenapa sih? Salah??” saya jawab dengan ketus plus muka jutek (ini sudah jadi trademark gw). Lalu mereka tertawa.. menghina.. sinis.. dan memasang muka mengejek seolah-olah saya ini makhluk nista. Ya biarlah… peduli syaiton.
Diam… hening… sunyi… tiba-tiba ada suara memecahkan keheningan tersebut dengan pertanyaan dari salah satu teman saya yang ga tahu apa-apa dengan kejadian penghinaan tersebut. “Eh, dee, nomor HP lo berapa? Udah berubah belum ya?” Belum saya jawab, bahkan ancang-ancang menjawabpun belum siap… mereka-mereka (yang menghina saya) langsung menjawab “Ya ga mungkin laaaaaaah! HP-nya aja masih yang lama, apalagi nomornya!!!!” Iyeeee… mereka benar. Walaupun hujan badai, petir disertai kilat menyambar sekalipun, saya ga akan mengganti nomor HP saya. Nomor keberuntungan saya tuh.. (walaupun terkadang hidup gw ga beruntung-beruntung amat, kadang apes.. kadang lho…).
Aniwei, sampai saat ini, detik ini juga di akhir tahun 2008 dimana HP canggih dengan kekuatan kamera 5 MP, wifi receiving, dkk, juga Dopod, blueberry merajalela (saya lebih memilih mengatakan blueberry dibanding blackberry -lebih yummy kedengarannya-) saya masih menyimpan, mendekap erat dan selalu ada kemanapun saya berada (saya taruh di tas sih) untuk berjaga-jaga bila HP saya yang Two On Inalilahi.
Alasan mengapa saya ga pernah mau menghanguskan P800 saya? Banyak memory (bukan memory card) dan segala hal yang pernah terjadi pada diri saya tercatat disitu. Hanya untuk mengingatkan saya bahwa saya pernah bahagia, sedih, jatuh dan bangun kembali ditemani oleh P800. Jadi, untuk yang berkeberatan melihat P800 saya, harap dimengerti. Saya tidak akan menjual (emang masih laku?) apalagi membuangnya. Yaaaaah, walaupun sekarang sudah boncal-boncel sana-sini, kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah ditambah lagi dengan sarung hitamnya yang ga senonoh (kalau kata teman saya, sarung yang diperkosa oleh kuda jantan).. saya akan tetap menyimpannya.
Dudududududu… *sambil siul dan berlari*