Have a little faith

October 13, 2008

Lokananta, 12 Okt 2008

Disini saya duduk sendiri disofa besar yang terletak nomor dua dari pintu masuk, ditemani strawberry juice yang rasanya sangat-sangat kemanisan. Uuuuh, rupanya peraciknya menuangkan sirup dengan prosentase lebih banyak daripada buah strawberrynya (atau sama sekali tak pakai buah, hanya murni sirup? dunno..). Lounge tepat diseberang GKI (Gereja Kristen Indonesia) daerah Panglima Polim. Saya rehat disini sebentar karna saya telat datang di kebaktian pukul 5 sore yang akhirnya saya memutuskan untuk menunggu kebaktian berikutnya di jam 7 malam.

Saya memutuskan untuk kembali kerumah Tuhan untuk mendengar Firman-Nya dan juga bernyanyi untuk-Nya, setelah mungkin lebih dari 6 bulan saya tak pernah “menjenguk” Dia. Kalau mau jujur, dan saya yakin Tuhan-pun tahu, saya malas. Saya selalu berpikiran, tokh saya mempunyai iman yang teguh dan takkan ada satupun kejadian yang akan membuat saya berpaling dari-Nya. Alasan yang lain, Gereja yang biasa saya kunjungi adalah Gereja mantan saya. Saya tak mau lagi kesana. Gereja papa-mama saya? Cibubur. Wuiiih, jauh bener… Alasan yang lain… saya malas mencari karna saya pasti sendirian. Yang terakhir sepertinya berat.

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman menegurku.. mengapa saya begitu. Mau gimana juga, entah saya sudah teguh keyakinan atau apapun juga, saya harus tetap datang. Setidaknya untuk mendengar (kalau-kalau saya lupa) dan juga bernyanyi memuji syukur untuk-Nya. DEG! Yah, lumayan tertampar di kedua pipi saya.. Sebenarnya tidak sesingkat itu juga dia berkotbah ala pendeta. Banyak sekali yang dia ucapkan… tapi seperti biasa, saya cukup mengosongkan otak saya (terkadang saya sering terkejut dengan kinerja otak saya yang bisa menutup begitu saja semudah menutup telinga) dan cukup berkata “he-eh.. he-eh”. Dan herannya saya tersenggol. Benar-benar tersenggol. Mau siapapun juga memaksa atau menyeret (bila diseret mungkin saya ikut).. juga orangtua saya, pendeta, teman-teman yang lain… saya tak pernah menggubris.. iya-iya saja sambil lalu. Tapi kali ini perasaan bersalah cukup menyelimuti diri saya yang (mungkin) sudah jauh dari-Nya.

Tepat jam 7 malam, lonceng bergema 5 kali, tanda sudah mau dimulai kebaktian…

 

Ternyata, hati saya belum membeku. Baru kali ini ada orang yang bisa dengan sangat dan berhasil tanpa susah payah menyingsingkan lengan baju dan membawa mobil derek untuk meyeret saya.

Leave a Reply